Ban jet tempur hanya mampu bertahan selama 8-12 kali pendaratan, dan inilah alasannya

Foto: dari sumber publik

Di antara penyebabnya adalah kecepatan ekstrem, pendaratan mendadak, manuver yang sulit, dan beban berlebih yang tinggi

Ban jet tempur memiliki umur yang sangat pendek, rata-rata hanya mampu bertahan sekitar 10 kali pendaratan. Seperti yang dijelaskan oleh wionews.com, hal ini dikarenakan ban-ban tersebut mengalami tekanan yang jauh melebihi tekanan yang dialami oleh ban konvensional.

1- Jet tempur mendarat jauh lebih cepat daripada pesawat komersial

Pesawat komersial biasanya mendarat dengan kecepatan sekitar 240-260 km/jam, tetapi kebanyakan jet tempur mendarat dengan kecepatan 280-320 km/jam, dan bahkan ada yang lebih cepat lagi, tergantung dari berat muatan dan bahan bakar. Semakin tinggi kecepatan pendaratan, semakin banyak gesekan yang harus ditahan oleh ban ketika menyentuh landasan pacu. Kecepatan ekstrem ini menciptakan panas dan tekanan yang luar biasa, yang mengakibatkan keausan karet dengan cepat.

2- Ban menghantam landasan pacu dengan gaya vertikal yang dahsyat

Tidak seperti pesawat komersial, yang turun dengan mulus, jet tempur melakukan pendaratan keras yang terkendali. Beban vertikal saat mendarat dapat mencapai empat hingga lima kali lipat dari beban yang dialami oleh ban pesawat penumpang. Benturan keras yang berulang-ulang ini sangat mengurangi umur ban.

3. Ban jet sangat kecil tetapi dirancang untuk beban berat

Jet tempur membutuhkan roda pendaratan yang ringkas untuk mengurangi hambatan dan agar muat di dalam badan pesawat. Karena ban lebih kecil, patch kontak (area yang bersentuhan dengan landasan pacu) sangat kecil dibandingkan dengan berat dan kecepatan yang harus mereka dukung. Untuk mengimbanginya, ban pesawat tempur dipompa dengan tekanan yang sangat tinggi, biasanya 20-25 bar, yang hampir 10 kali lipat dari ban mobil. Kombinasi dari ukuran kecil dan tekanan yang ekstrim menyebabkan erosi tapak yang cepat.

4. Melepas landas dengan afterburner dan mengerem dengan kecepatan tinggi dengan cepat merusak karet

Jet tempur sering menggunakan lepas landas dengan afterburner, yang menciptakan beban berlebih yang signifikan. Bahkan pengereman normal setelah pendaratan dapat meningkatkan suhu ban di atas 200 ° C, menghancurkan karet dengan setiap siklus.

5. Belokan dengan beban berlebih yang tinggi sebelum mendarat mengakibatkan defleksi ban ke arah lateral

Saat mendekat, jet tempur melakukan belokan curam dengan beban berlebih untuk menyelaraskan diri dengan landasan pacu. Manuver ini menciptakan beban samping yang memelintir ban pada sudut yang tidak sesuai dengan desainnya. Gesekan lateral ini mempercepat keausan tepi ban dan mengurangi jumlah pendaratan yang aman.

6. Kapal induk mengurangi umur ban lebih jauh lagi

Pesawat berbasis dek seperti F/A-18 atau MiG-29K sering kali melakukan pendaratan yang lebih sedikit per ban. Pesawat-pesawat ini menabrak dek dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga pengait ekornya bisa tersangkut di kabel rem. Dampaknya sangat parah sehingga ban mungkin perlu diganti setelah 1-3 kali pendaratan.

7. Keselamatan tidak bisa ditawar

Kegagalan satu ban saat mendarat dapat menyebabkan kecelakaan serius, termasuk tergelincir dari landasan pacu, kegagalan roda pendaratan atau kebakaran. Karena penerbangan jet tempur melibatkan kecepatan tinggi dan manuver yang rumit, militer mengikuti jadwal penggantian yang ketat untuk menjaga margin keselamatan. Meskipun ban terlihat masih dapat diservis secara visual, ban tersebut mungkin sudah aus. Mengganti ban setiap 8-12 kali pendaratan memastikan pengoperasian pesawat yang aman dalam segala kondisi.

Komentar:

Share to friends
Rating
( No ratings yet )
Tips dan Lifehacks Berguna untuk Sehari-hari