Foto: dari sumber terbuka
Bertahan dalam hubungan tanpa cinta berarti terus-menerus memberi tanpa balasan
Perceraian adalah topik yang jarang dibicarakan tanpa penghakiman. Dalam masyarakat, perceraian sering dianggap sebagai kekalahan, akhir dari cinta, atau kehancuran keluarga. Perceraian diyakini menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada anak-anak: perceraian membentuk rasa takut mereka akan keintiman dan sikap negatif terhadap pernikahan.
Namun, para psikolog membuktikan bahwa perceraian dapat menjadi awal dari sebuah kehidupan baru – baik bagi orang dewasa maupun anak-anak – jika dilakukan dengan penuh rasa hormat dan kesadaran.
Hubungan orang tua membentuk model cinta untuk anak
Argumen paling penting yang menentang “tetap tinggal demi anak-anak” adalah anak-anak.
Di dalam keluargalah seorang anak pertama kali melihat apa itu hubungan yang sehat. Jika orang tua hidup tanpa rasa hormat, kepercayaan, dan kehangatan, dia menerima model cinta yang negatif, di mana ada kedinginan, ketegangan, dan rasa bahaya.
Bahkan jika orang dewasa mencoba untuk “tidak bertengkar di depan anak-anak,” anak secara intuitif merasakan kepalsuan, yang dapat menyebabkan rasa takut akan keintiman, pengulangan skenario yang gagal, atau pengekangan diri di masa dewasa.
Penelitian menunjukkan: anak-anak yang orangtuanya menjaga komunikasi positif setelah perceraian tumbuh dengan sikap yang lebih sehat terhadap cinta dan kehidupan keluarga.
Menjalani kehidupan yang menipu diri sendiri menguras emosi dan spiritual
Mempertahankan ilusi “pernikahan yang normal” membutuhkan usaha yang luar biasa. Banyak orang berpikir, “Kami akan bertahan demi anak-anak,” tanpa menyadari harga yang harus dibayar oleh jiwa.
Kurangnya kejujuran dan keintiman emosional dalam hubungan dapat menyebabkan stres kronis, kelelahan, dan masalah psikosomatis. Emosi yang tertekan – kemarahan, frustrasi, kesedihan – menumpuk dan dapat bermanifestasi dalam perilaku yang merusak.
Untuk memulihkan keharmonisan batin, penting untuk membiarkan diri sendiri menghayati kehilangan, menerima rasa sakit dan melepaskannya. Psikoterapi, baik secara individu maupun keluarga, dapat membantu mengurangi kecemasan, depresi, dan memudahkan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang baru.
Tidak mungkin menemukan kedamaian batin tanpa cinta yang tulus
Bertahan dalam sebuah hubungan tanpa cinta sama saja dengan terus-menerus memberi tanpa timbal balik. Ketika kelembutan, dukungan, dan keintiman hilang, seseorang akan kehilangan dirinya sendiri.
Bagi mereka yang telah hidup dalam ikatan seperti itu untuk waktu yang lama, perpisahan menjadi satu-satunya jalan menuju kebahagiaan mereka sendiri. Perceraian yang didasarkan pada rasa hormat dan kejujuran memungkinkan:
- kegembiraan hidup kembali;
- mendapatkan kembali kepercayaan diri;
- mengembalikan keseimbangan mental.
Hal yang utama adalah menjadi contoh hidup bagi anak-anak tentang cinta yang sehat, di mana ketulusan, kebebasan, dan kepedulian terhadap kesehatan mental lebih penting daripada kesabaran atau pengorbanan.
